Suasana di pesantren Watucongol, Magelang, suatu hari terasa berbeda. Sang guru mursyid, KH. Nahrowi Dalhar atau yang lebih akrab disapa Mbah Dalhar, membawa sebuah kabar yang membuat para santri berdebar gembira.“Bersiaplah, besok akan datang ‘kitab banyak’ ke sini,” sabda Mbah Dalhar penuh kharisma.
Kabar itu menyebar cepat. Para santri membayangkan akan datang tumpukan kitab baru untuk mereka kaji. Namun, ‘kitab banyak’ yang dimaksud Mbah Dalhar bukanlah buku dalam arti harfiah. Itu adalah sebuah isyarat halus, kiasan untuk seorang alim yang ilmunya seluas lautan.
Sosok Pendiam yang Membingungkan Para Santri
Keesokan harinya, sosok yang dinanti pun tiba. Ia diperkenalkan sebagai Abuya Dimyati dari Banten. Namun, alih-alih menunjukkan citra seorang guru besar, penampilan dan perilakunya justru membuat para santri bingung.
Abuya Dimyati sangat pendiam. Hari-harinya di pesantren lebih banyak diisi dengan diam dan tafakur. Tak ada tanda-tanda ia akan mengajar atau berbagi ilmu. Para santri yang semula antusias, kini menjadi segan dan tak berani bertanya. Misteri menyelimuti sosok tamu agung ini. Siapakah sebenarnya beliau?
Dialog Agung Dua Wali: Ujian Kerendahan Hati
Mbah Dalhar, dengan kewalian-nya, tentu memahami kebingungan para santrinya dan ketawaduan tamunya. Tepat di hari ke-40 keberadaan Abuya Dimyati di Watucongol, Mbah Dalhar memanggilnya untuk sebuah dialog yang kelak menjadi legenda.
“Sampeyan (Anda) mau apa jauh-jauh datang ke sini?” tanya Mbah Dalhar membuka percakapan.
Dengan penuh adab dan kerendahan hati, Abuya Dimyati menjawab, “Saya mau mondok (belajar di pesantren), Mbah.”
Mendengar jawaban itu, Mbah Dalhar tersenyum. Ia tahu betul siapa yang ada di hadapannya.
“Perlu kamu ketahui, di sini itu tidak ada ilmu,” sahut Mbah Dalhar dengan nada tegas. “Ilmu itu adanya di
Pernyataan Mbah Dalhar bukanlah pengusiran, melainkan sebuah pengakuan tertinggi. Beliau mengakui bahwa ilmu Abuya Dimyati sudah melimpah ruah dan tugasnya adalah mengajar, bukan lagi belajar.
Namun, Abuya Dimyati tetap pada pendiriannya, menunjukkan puncak adab seorang murid.
“Saya tetap mau mengaji saja di sini, Mbah,” jawabnya lembut.
Melihat keteguhan dan kerendahan hati yang luar biasa itu, Mbah Dalhar akhirnya memberikan jalan tengah.
“Kalau begitu, kamu harus bantu mengajar di sini. Dan satu lagi, kamu tidak boleh punya teman.”
Syarat "tidak boleh punya teman" bukanlah untuk mengucilkannya, melainkan untuk menjaga kedudukan istimewanya agar bisa fokus beribadah dan membantu Mbah Dalhar, tanpa terganggu oleh pergaulan santri biasa.
Hikmah di Balik Kisah
Kisah ini adalah cerminan agung dari adab dan kerendahan hati para ulama besar.
Pengakuan Ilmu: Mbah Dalhar sebagai "samudera ilmu" mengakui Abuya Dimyati sebagai "kitab berjalan" yang sudah matang ilmunya.
Puncak Tawadhu: Abuya Dimyati, meski ilmunya diakui, tetap menempatkan dirinya sebagai murid yang haus akan barokah seorang guru.
Ilmu Padi: Semakin berisi, semakin merunduk. Inilah pelajaran terbesar yang diajarkan oleh dua waliyullah ini kepada kita semua.
Kisah ini menjadi bukti bahwa ilmu sejati selalu bergandengan dengan adab dan kerendahan hati.
Penutup Do'a
Sebagai penutup dan bentuk penghormatan, mari kita hadiahkan Al-Fatihah untuk kedua ulama besar ini.
أن الله يعلي درجاتهم في الجنة وينفعنا بأسرارهم وأنوارهم في الدين والدنيا والآخرة، الفاتحة
Annallaha yu'li darajatihim fil jannah, wayanfa'una bi asrorihim wa anwarihim fiddini waddunya wal akhirah. Al-Fatihah.
(Semoga Allah SWT meninggikan derajat mereka di surga, dan semoga kita mendapatkan manfaat dari rahasia-rahasia dan cahaya ilmu mereka di dunia dan akhirat. Al-Fatihah).
0 Komentar