Di tengah samudra informasi digital, akidah seorang mukmin ibarat sauh kapal yang menancap kuat di dasar lautan. Tanpa sauh yang kokoh, kapal akan terombang-ambing oleh badai syubhat (kerancuan) dan gelombang pemikiran yang menyesatkan. Ilmu Akidah, yang juga dikenal sebagai Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam, adalah ilmu yang menempa sauh tersebut, memastikan ia terbuat dari baja keimanan yang paling murni.
Namun, medan pembahasan akidah sangatlah luas dan penuh persimpangan. Ada jalan yang lurus, namun banyak pula persimpangan yang mengarah pada jurang kesesatan. Sebagian kelompok terlalu kaku berpegang pada teks (tekstualisme), sementara yang lain kebablasan memuja rasio hingga menempatkannya di atas wahyu. Di sinilah peran vital Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) menjadi mercusuar. Mereka adalah para penjaga jalan tengah (manhaj wasathiyyah), yang secara brilian menyeimbangkan antara dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadits) dengan dalil 'aqli (argumen nalar yang lurus).
Salah satu arsitek benteng akidah Aswaja yang paling berpengaruh adalah Syekh Muhammad bin Yusuf as-Sanusi (w. 895 H), seorang ulama besar dari Maroko. Melalui karyanya yang monumental dan menjadi pegangan para santri di seluruh dunia, Aqidah as-Sughra (dikenal dengan Matan Sanusiyyah), beliau memetakan dengan sangat jernih titik-titik rawan yang bisa meruntuhkan bangunan akidah seseorang.
Menurut Imam as-Sanusi, ada tujuh sumber atau akar kesesatan dalam berpikir tentang akidah yang harus kita kenali dan waspadai. Ini bukan sekadar kesalahan biasa, melainkan fondasi rusak yang jika dibiarkan, akan membuat seluruh bangunan iman kita runtuh. Mari kita bedah satu per satu.
1. Jebakan 'Kewajiban Tuhan': Anggapan Allah 'Wajib' Mencipta
Ini adalah kerancuan fundamental yang berasal dari para filsuf Yunani kuno dan sayangnya meracuni sebagian sekte dalam sejarah Islam.
Pokok Kesesatan: Mereka berkeyakinan bahwa keberadaan Tuhan sebagai Pencipta meniscayakan adanya ciptaan. Dengan kata lain, Allah wajib menciptakan alam semesta agar status-Nya sebagai Tuhan terbukti. Jika Allah tidak mencipta, maka (menurut logika mereka) Dia bukanlah Tuhan. Paham ini juga berujung pada keyakinan bahwa alam ini sama-sama abadi (qadim) seperti Tuhan, karena keduanya dianggap ada secara bersamaan sejak zaman azali.
Logika Sesat Mereka: Para filsuf ini menggunakan dua analogi yang keliru:
Analogi Sebab-Akibat Otomatis ( Mereka menganggap hubungan Allah dan alam seperti hubungan jari dan cincin. Ketika jari bergerak, cincin otomatis bergerak bersamanya tanpa jeda waktu. Begitu pula, وجود (eksistensi) Allah sebagai sebab ('illat) otomatis melahirkan akibat (ma'lul), yaitu alam semesta.
Analogi Tabiat (Tab'i): Mereka menganggap Allah menciptakan karena "tabiat"-Nya, sama seperti api yang "terpaksa" oleh tabiatnya untuk membakar. Api tidak punya pilihan lain selain membakar. Menurut mereka, Allah pun tidak punya pilihan lain selain mencipta.
Jawaban Tuntas Aswaja: Ulama Aswaja dengan tegas menolak logika ini. Akidah Aswaja menegaskan bahwa Allah memiliki sifat Iradah (Kehendak) dan Ikhtiyar (Pilihan Bebas). Allah menciptakan alam semesta bukan karena keterpaksaan atau kewajiban, melainkan murni karena kehendak-Nya.
Sifat menciptakan bagi Allah adalah Jaiz, yang artinya Allah berhak dan boleh untuk mencipta atau tidak mencipta. Tidak ada satu kekuatan pun di luar Dzat-Nya yang bisa memaksa-Nya. Mengatakan Allah "wajib" melakukan sesuatu berarti menempatkan sebuah hukum di atas Allah, dan ini adalah kemustahilan. Alam semesta ini hadits (baru), bukan qadim (dahulu tanpa permulaan).
2. Rasionalitas yang Kebablasan: Keyakinan Allah 'Harus' Berbuat Baik Menurut Akal Manusia
Penyimpangan ini dipelopori oleh ajaran Brahmana di India kuno dan kemudian diadopsi oleh sekte Mu'tazilah.
Pokok Kesesatan: Mereka meyakini bahwa akal manusia adalah hakim tertinggi untuk menentukan apa itu "baik" dan "buruk". Konsekuensinya, mereka meyakini Tuhan wajib melakukan hal-hal yang dianggap baik oleh akal, dan mustahil melakukan hal yang dianggap buruk oleh akal. Kaum Brahmana, misalnya, melarang makan daging karena menyembelih hewan dianggap "buruk" secara akal. Mu'tazilah melangkah lebih jauh, menyatakan syariat harus tunduk pada standar baik-buruk versi akal, dan Tuhan tidak boleh menimpakan musibah pada hamba-Nya karena itu "buruk".
Logika Sesat Mereka: Jika Tuhan melakukan sesuatu yang menurut akal kita tidak adil atau buruk, maka Dia bukanlah Tuhan yang Maha Baik. Akal menjadi standar untuk "mengukur" perbuatan Tuhan.
Jawaban Tuntas Aswaja: Ulama Aswaja, khususnya mazhab Asy'ariyah, meluruskan hal ini dengan kaidah emas: standar baik dan buruk (secara hukum dan pahala) ditentukan oleh syariat, bukan akal semata (at-tahsin wat-taqbih syar'iyyan la 'aqliyyan).
Analogi: Lampu lalu lintas. Mengapa lampu merah berarti "berhenti" dan hijau berarti "jalan"? Bukan karena warna merah secara esensial "buruk" atau hijau itu "baik". Keduanya menjadi punya nilai hukum karena aturan (syariat) yang ditetapkannya.
Sesuatu dianggap baik dan berpahala karena Allah memerintahkannya. Sesuatu dianggap buruk dan berdosa karena Allah melarangnya. Akal kita berfungsi untuk memahami perintah dan larangan itu, bukan untuk menghakiminya. Allah adalah Pemilik mutlak, Dia berhak berbuat apa pun di "kerajaan"-Nya. Menimpakan musibah pada seorang hamba bisa jadi adalah ujian, penghapus dosa, atau hikmah lain yang tak terjangkau akal kita.
3. Buta karena Fanatisme: Mengunci Diri dari Kebenaran
Ini adalah penyakit psikologis yang menjadi benteng bagi setiap ajaran sesat.
Pokok Kesesatan: Seseorang memegang teguh keyakinan kelompoknya secara membabi buta (ta'assub) dan menolak untuk mempertimbangkan atau mendengarkan argumen dari pihak lain, sekalipun argumen itu didasarkan pada dalil yang kuat dan logika yang lurus. Mereka lebih memilih loyalitas kelompok daripada kebenaran itu sendiri.
Mengapa Ini Berbahaya? Fanatisme menciptakan "ruang gema" (echo chamber) di mana keraguan dibungkam dan kritik dianggap serangan. Pintu hidayah sering kali tertutup bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena kesombongan dan keengganan untuk berpikir terbuka. Ulama Aswaja dari zaman ke zaman selalu menulis kitab-kitab bantahan (radd) bukan untuk mencari musuh, melainkan sebagai undangan dialog intelektual untuk menunjukkan di mana letak kesalahannya.
Sikap Aswaja: Terbuka pada dialog, mengedepankan hujjah (argumen), dan selalu siap menimbang kebenaran dari mana pun datangnya, selama sesuai dengan koridor Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma' ulama.
Ini adalah penyakit psikologis yang menjadi benteng bagi setiap ajaran sesat.
Pokok Kesesatan: Seseorang memegang teguh keyakinan kelompoknya secara membabi buta (ta'assub) dan menolak untuk mempertimbangkan atau mendengarkan argumen dari pihak lain, sekalipun argumen itu didasarkan pada dalil yang kuat dan logika yang lurus. Mereka lebih memilih loyalitas kelompok daripada kebenaran itu sendiri.
Mengapa Ini Berbahaya? Fanatisme menciptakan "ruang gema" (echo chamber) di mana keraguan dibungkam dan kritik dianggap serangan. Pintu hidayah sering kali tertutup bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena kesombongan dan keengganan untuk berpikir terbuka. Ulama Aswaja dari zaman ke zaman selalu menulis kitab-kitab bantahan (radd) bukan untuk mencari musuh, melainkan sebagai undangan dialog intelektual untuk menunjukkan di mana letak kesalahannya.
Sikap Aswaja: Terbuka pada dialog, mengedepankan hujjah (argumen), dan selalu siap menimbang kebenaran dari mana pun datangnya, selama sesuai dengan koridor Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma' ulama.
4. Ilusi Sebab-Akibat: Melupakan Allah di Balik Rutinitas Alam
Ini adalah kesesatan yang sangat halus dan sering menjangkiti bahkan orang awam sekalipun.
Pokok Kesesatan: Meyakini bahwa sebab-akibat di alam ini berjalan secara otomatis dan mandiri, tanpa campur tangan Allah. Misalnya, meyakini bahwa api-lah yang dengan sendirinya (dengan tabiatnya) membakar, obatlah yang menyembuhkan, dan makanlah yang mengenyangkan. Mereka menafikan peran Allah sebagai Pencipta sejati dari setiap efek yang terjadi.
Jawaban Tuntas Aswaja: Akidah Aswaja mengajarkan bahwa hubungan antara sebab dan akibat bukanlah hubungan yang niscaya, melainkan berjalan sesuai sunnatullah atau 'adah (kebiasaan) yang Allah ciptakan.
Api tidak membakar, tetapi Allah menciptakan rasa terbakar saat terjadi persentuhan dengan api.
Nasi tidak mengenyangkan, tetapi Allah menciptakan rasa kenyang saat kita memakan nasi.
Dalil terkuatnya adalah mukjizat. Kisah Nabi Ibrahim AS yang tidak terbakar api adalah bukti telak bahwa api tidak memiliki kekuatan independen. Allah-lah yang memegang kendali mutlak atas hukum alam yang Dia ciptakan sendiri. Dengan keyakinan ini, seorang mukmin akan selalu melihat "tangan" Allah di balik setiap fenomena, membuatnya tidak pernah sombong dengan usaha dan tidak putus asa saat sebab-sebab duniawi gagal.
5. Berpaling dari Manhaj: Menafsirkan Agama Tanpa Panduan Ulama
Ini adalah sumber kesesatan yang sangat relevan di era "semua orang bisa menjadi ustadz" di media sosial.
Pokok Kesesatan: Merasa mampu memahami Al-Qur'an dan Hadits secara langsung tanpa melalui metodologi (manhaj) dan perangkat ilmu yang telah dirumuskan dan diwariskan oleh para ulama secara turun-temurun (sanad). Mereka melompati jembatan para ulama dan mencoba menyeberangi sungai syariat yang deras sendirian.
Mengapa Ini Berbahaya? Hal ini melahirkan pemahaman yang serampangan dan radikal. Contoh paling nyata adalah sekte Khawarij, yang dengan pemahaman dangkalnya terhadap ayat "Tidak ada hukum selain hukum Allah" (QS. Al-An'am: 57), mereka mengafirkan semua muslim yang tidak sepaham, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kesalahan mereka bukan pada ayatnya, tetapi pada metode penafsirannya yang liar dan tanpa panduan.
Sikap Aswaja: Menghormati hierarki ilmu. Untuk memahami Al-Qur'an dan Hadits, dibutuhkan penguasaan ilmu-ilmu alat seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ushul Fiqih, Ushuluddin, dan lain-lain. Ulama adalah pewaris Nabi yang mewariskan ilmunya melalui sanad dan manhaj yang jelas.
Ini adalah sumber kesesatan yang sangat relevan di era "semua orang bisa menjadi ustadz" di media sosial.
Pokok Kesesatan: Merasa mampu memahami Al-Qur'an dan Hadits secara langsung tanpa melalui metodologi (manhaj) dan perangkat ilmu yang telah dirumuskan dan diwariskan oleh para ulama secara turun-temurun (sanad). Mereka melompati jembatan para ulama dan mencoba menyeberangi sungai syariat yang deras sendirian.
Mengapa Ini Berbahaya? Hal ini melahirkan pemahaman yang serampangan dan radikal. Contoh paling nyata adalah sekte Khawarij, yang dengan pemahaman dangkalnya terhadap ayat "Tidak ada hukum selain hukum Allah" (QS. Al-An'am: 57), mereka mengafirkan semua muslim yang tidak sepaham, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kesalahan mereka bukan pada ayatnya, tetapi pada metode penafsirannya yang liar dan tanpa panduan.
Sikap Aswaja: Menghormati hierarki ilmu. Untuk memahami Al-Qur'an dan Hadits, dibutuhkan penguasaan ilmu-ilmu alat seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ushul Fiqih, Ushuluddin, dan lain-lain. Ulama adalah pewaris Nabi yang mewariskan ilmunya melalui sanad dan manhaj yang jelas.
6. Jebakan Tekstualisme Kaku: Memahami Wahyu Secara Harfiah dan Dangkal
Ini adalah kelanjutan dari poin kelima, namun lebih spesifik pada ayat-ayat sifat (mutasyabihat).
Pokok Kesesatan: Memahami ayat-ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah (seperti Tangan, Wajah, Bersemayam/Istiwa') secara harfiah sebagaimana makna pada makhluk. Ini adalah paham Mujassimah (meyakini Allah berjisim/bertubuh) atau Musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk). Mereka menolak takwil (interpretasi metaforis) secara mutlak.
Jawaban Tuntas Aswaja: Ulama Aswaja berpegang teguh pada prinsip "Laisa kamitslihi syai'un" (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya). Untuk ayat-ayat mutasyabihat, Aswaja memiliki dua metode yang aman:
Tafwidh: Menyerahkan maknanya secara total kepada Allah, sambil meyakini bahwa maknanya tidak mungkin sama dengan makhluk. "Kami beriman pada lafadznya, tapi kami serahkan hakikat maknanya kepada Allah."
Ta'wil: Memberikan interpretasi metaforis yang layak bagi keagungan Allah dan didukung oleh dalil lain. Misalnya, "Tangan Allah" diartikan sebagai Kekuasaan atau Nikmat-Nya.
Kedua metode ini bertujuan sama: Tanzih, yaitu menyucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk-Nya.
7. Fondasi Logika yang Rapuh: Membangun Iman di Atas Khayalan
Ini adalah kesesatan yang timbul dari kelemahan dalam menggunakan nalar dasar yang sehat (badihiyatu al-'aql).
Pokok Kesesatan: Mendasarkan keyakinan pada asumsi-asumsi yang tidak logis, tahayul, atau pemikiran yang kontradiktif. Misalnya, meyakini Tuhan tersusun dari bagian-bagian (seperti tubuh, tangan, kaki).
Jawaban Tuntas Aswaja: Logika dasar saja sudah cukup untuk membantahnya. Jika Tuhan tersusun dari bagian-bagian, maka Dia membutuhkan "sesuatu" yang lain untuk menyusun bagian-bagian tersebut menjadi satu kesatuan. Sesuatu yang membutuhkan yang lain untuk ada adalah makhluk, bukan Tuhan. Ini secara langsung menafikan sifat Allah yang Qiyamuhu bi Nafsihi (Berdiri Sendiri) dan menegaskan sifat Mukhalafatu lil-Hawadits (Berbeda dengan makhluk). Ilmu Kalam Aswaja menggunakan logika bukan untuk melawan wahyu, tetapi untuk membersihkan akidah dari kontradiksi dan khayalan semacam ini.
Merawat Sauh Iman dengan Ilmu dan Nalar yang Lurus
Tujuh akar penyimpangan yang dipaparkan oleh Imam as-Sanusi ini bukanlah sekadar teori usang. Ia adalah diagnosis akurat terhadap "penyakit-penyakit" pemikiran yang terus muncul dalam berbagai bentuk di setiap zaman. Dengan memahaminya, kita tidak sedang belajar untuk menghakimi, melainkan untuk membentengi diri.
Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah jalan tengah yang indah: ia tidak membuang akal, juga tidak mendewakannya. Ia menggunakan akal yang tercerahkan oleh wahyu sebagai alat untuk memahami dan mempertahankan kebenaran. Semoga dengan mengenali jebakan-jebakan ini, sauh iman kita semakin kokoh menancap di dasar samudra tauhid, tak tergoyahkan oleh badai pemikiran seganas apa pun.
Disarikan dan dikembangkan dari artikel "Tujuh Sesat Pikir dalam Ilmu Aqidah yang Perlu Diluruskan" karya Muhammad Tholhah al Fayyadl di NU Online, dengan pendalaman dan pengayaan.


0 Komentar